Archive for the ‘Artikel pendidikan’ Category

PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI INDONESIA

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Seminar Ekonomi Akuntansi

Dosen Pengampu Drs. Djoko Suwandi, SE., M.Pd

 

 

 Disusun

ROMI VIRA LUKI P

A210100032

PENDIDIKAN AKUNTANSI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2013

  1. PENDAHULUAN

Pendidikan Indonesia semakin hari kualitasnya makin rendah. Berdasarkan Survey United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), terhadap kualitas pendidikan di Negara-negara berkembang di Asia Pacific, Indonesia menempati peringkat 10 dari 14 negara. Sedangkan untuk kualitas para guru, kulitasnya berada pada level 14 dari 14 negara berkembang.

Salah satu faktor rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia adalah karena lemahnya para guru dalam menggali potensi anak. Para pendidik seringkali memaksakan kehendaknya tanpa pernah memperhatikan kebutuhan, minat dan bakat yang dimiliki siswanya. Kelemahan para pendidik kita, mereka tidak pernah menggali masalah dan potensi para siswa. Pendidikan seharusnya memperhatikan kebutuhan anak bukan malah memaksakan sesuatu yang membuat anak kurang nyaman dalam menuntut ilmu. Proses pendidikan yang baik adalah dengan memberikan kesempatan pada anak untuk kreatif. Itu harus dilakukan sebab pada dasarnya gaya berfikir anak tidak bisa diarahkan.

Selain kurang kreatifnya para pendidik dalam membimbing siswa, kurikulum yang sentralistik membuat potret pendidikan semakin buram. Kurikulum hanya didasarkan pada pengetahuan pemerintah tanpa memperhatikan kebutuhan masyarakat. Lebih parah lagi, pendidikan tidak mampu menghasilkan lulusan yang kreatif. Ini salahnya, kurikulum dibuat di Jakarta dan tidak memperhatikan kondisi di masyarakat bawah. Jadi, para lulusan hanya pintar cari kerja dan tidak pernah bisa menciptakan lapangan kerja sendiri, padahal lapangan pekerjaan yang tersedia terbatas. Kualitas pendidikan Indonesia sangat memprihatinkan. Berdasarkan analisa dari badan pendidikan dunia (UNESCO), kualitas para guru Indonesia menempati peringkat terakhir dari 14 negara berkembang di Asia Pacifik. Posisi tersebut menempatkan negeri agraris ini dibawah Vietnam yang negaranya baru merdeka beberapa tahun lalu. Ini juga kesalahan negara yang tidak serius untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dari sinilah penulis mencoba untuk membahas lebih dalam mengenai pendidikan di Indonesia dan segala dinamikanya.

  1. Masalah Mendasar Pendidikan di Indonesia

Bagi orang-orang yang berkompeten terhadap bidang pendidikan akan menyadari bahwa dunia pendidikan kita sampai saat ini masih mengalami “sakit”. Dunia pendidikan yang “sakit” ini disebabkan karena pendidikan yang seharusnya membuat manusia menjadi manusia, tetapi dalam kenyataannya seringkali tidak begitu. Seringkali pendidikan tidak memanusiakan manusia. Kepribadian manusia cenderung direduksi oleh sistem pendidikan yang ada.

Masalah pertama adalah bahwa pendidikan, khususnya di Indonesia, menghasilkan “manusia robot”. Pendidikan ternyata mengorbankan keutuhan. Kurang seimbang antara belajar yang berpikir (kognitif) dan perilaku belajar yang merasa (afektif). Jadi unsur integrasi cenderung semakin hilang, yang terjadi adalah disintegrasi. Padahal belajar tidak hanya berfikir. Sebab ketika orang sedang belajar, maka orang yang sedang belajar tersebut melakukan berbagai macam kegiatan, seperti mengamati, membandingkan, meragukan, menyukai, semangat dan sebagainya. Hal yang sering disinyalir ialah pendidikan seringkali dipraktekkan sebagai sederetan instruksi dari guru kepada murid.

Masalah kedua adalah sistem pendidikan yang top-down (dari atas ke bawah) atau kalau menggunakan istilah Paulo Freire (seorang tokoh pendidik dari Amerika Latin) adalah pendidikan gaya bank. Sistem pendidikan ini sangat tidak membebaskan karena para peserta didik (murid) dianggap manusia-manusia yang tidak tahu apa-apa. Guru sebagai pemberi mengarahkan kepada murid-murid untuk menghafal secara mekanis apa isi pelajaran yang diceritakan. Guru sebagai pengisi dan murid sebagai yang diisi.Freire mengatakan bahwa dalam pendidikan gaya bank pengetahuan merupakan sebuah anugerah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap dirinya berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak mempunyai pengetahuan apa-apa.

Yang ketiga, dari model pendidikan yang demikian maka manusia yang dihasilkan pendidikan ini hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya. Manusia sebagai objek (yang adalah wujud dari dehumanisasi) merupakan fenomena yang justru bertolak belakang dengan visi humanisasi, menyebabkan manusia tercerabut dari akar-akar budayanya (seperti di dunia Timur/Asia). Bukankah kita telah sama-sama melihat bagaimana kaum muda zaman ini begitu gandrung dengan hal-hal yang berbau Barat? Oleh karena itu strategi pendidikan di Indonesia harus terlebur dalam “strategi kebudayaan Asia”, sebab Asia kini telah berkembang sebagai salah satu kawasan penentu yang strategis dalam bidang ekonomi, sosial, budaya bahkan politik internasional.

  1. Kualitas Pendidikan di Indonesia

Ada dua faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan, khususnya di Indonesia yaitu :

  1. Faktor internal, meliputi jajaran dunia pendidikan baik itu Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan daerah, dan juga sekolah yang berada di garis depan.Dalam hal ini,interfensi dari pihak-pihak yang terkait sangatlah dibutuhkan agar pendidikan senantiasa selalu terjaga dengan baik.

  2. Faktor eksternal, adalah masyarakat pada umumnya. Dimana masyarakat merupakan ikon pendidikan dan merupakan tujuan dari adanya pendidikan yaitu sebagai objek dari pendidikan.

  1. Faktor-faktor penyebab terpuruknya kualitas pendidikan Indonesia

  1. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik

Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.

  1. Rendahnya Kualitas Guru

Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.

Kendati secara kuantitas jumlah guru di Indonesia cukup memadai, namun secara kualitas mutu guru di negara ini, pada umumnya masih rendah. Secara umum, para guru di Indonesia kurang bisa memerankan fungsinya dengan optimal, karena pemerintah masih kurang memperhatikan mereka, khususnya dalam upaya meningkatkan profesionalismenya. Meskipun demikian, dalam hal distribusi guru ternyata banyak mengandung kelemahan yakni pada satu sisi ada daerah atau sekolah yang kelebihan jumlah guru, dan di sisi lain ada daerah atau sekolah yang kekurangan guru. Dalam banyak kasus, ada SD yang jumlah gurunya hanya tiga hingga empat orang, sehingga mereka harus mengajar kelas secara paralel dan simultan.

  1. Rendahnya Kesejahteraan Guru

Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Dengan pendapatan yang rendah, terang saja banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan.

Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru dan dosen (PNS) agak lumayan. Pasal 10 UU itu sudah memberikan jaminan kelayakan hidup. Di dalam pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan memadai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, dan/atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya. Mereka yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak atas rumah dinas. Tapi, kesenjangan kesejahteraan guru swasta dan negeri menjadi masalah lain yang muncul. Di lingkungan pendidikan swasta, masalah kesejahteraan masih sulit mencapai taraf ideal.

  1. Rendahnya Prestasi Siswa

Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah. Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.

Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.

  1. Mahalnya Biaya Pendidikan

Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah.

Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara yang kaya dan miskin.

Bagi masyarakat tertentu, beberapa PTN yang sekarang berubah status menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) itu menjadi momok. Jika alasannya bahwa pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya berlaku di Indonesia. Di Jerman, Prancis, Belanda, dan di beberapa negara berkembang lainnya, banyak perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah. Bahkan beberapa negara ada yang menggratiskan biaya pendidikan.

  1. Solusi Pendidikan di Indonesia

Untuk mengatasi masalah-masalah, seperti rendahnya kualitas sarana fisik, rendahnya kualitas guru, dan lain-lain seperti yang telah dijelaskan diatas, secara garis besar ada dua solusi yaitu:

  1. Solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan.

  2. Solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa.

Solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.

Maka dengan adanya solusi-solusi tersebut diharapkan pendidikan di Indonesia dapat bangkit dari keterpurukannya, sehingga dapat menciptakan generasi-generasi baru yang berSDM tinggi, berkepribadian pancasila dan bermartabat.

  1. Kesimpulan

Banyak sekali factor yang menjadikan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Factor-faktor yang bersifat teknis diantaranya adalah rendahnya kualitas guru, rendahnya sarana fisik, mahalnya biaya pendidikan, rendahnya prestasi siswa, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan, kurangnya pemerataan kesempatan pendidikan. Namun sebenarnya yang menjadi masalah mendasar dari pendidikan di Indonesia adalah sistem pendidikan di Indonesia itu sendiri yang menjadikan siswa sebagai objek, sehingga manusia yang dihasilkan dari sistem ini adalah manusia yang hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya. Maka disinilah dibutuhkan kerja sama antara pemerintah dan mesyarakat untuk mengatasi segala permasalahanpendidikan di Indonesia.

http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/12/problematika-sistem-pendidikan-indonesia.html

 

Iklan

Macam-macam Kecerdasan Anak

Berkaitan dengan kecerdasan, Howard Gardner, dalam bukunya Multiple Intelligences (Kecerdasan Ganda), membagi kecerdasan anak dalam spektrum yang cukup luas.

  1. Kecerdasan matematika dan logika atau cerdas angka

Memuat kemampuan seorang anak berpikir secara induktif dan deduktif, kemampuan berpikir menurut aturan logika dan menganalisis pola angka-angka, serta memecahkan masalah melalui kemampuan berpikir. Anak-anak dengan kecerdasan matematika dan logika yang tinggi cenderung menyenangi kegiatan analisis dan mempelajari sebab akibat terjadinya sesuatu.

Kecerdasan dalam melibatkan ketrampilan mengolah angka dan atau menggunakan logika. Anak dengan kecerdasan tipe ini bisa dengan mudah menggunakan menggunakan simbol-simbol dalam belajar, dan mampu menjabarkan sesuatu yang abstrak menjadi sesuatu yang pasti. Anak-anak yang cerdas angka juga sangat menyukai permainan yang melibatkan kemampuan berpikir aktif seperti catur dan bermain teka-teki. Setelah remaja biasanya mereka cenderung menggeluti bidang matematika atau IPA, dan setelah dewasa menjadi insinyur, ahli teknik, ahli statistik, dan pekerjaan-pekerjaan yang banyak melibatkan angka.

  1. Kecerdasan bahasa atau cerdas kata

Kecerdasan dalam mengolah kata alias kecerdasan bahasa (linguistik) adalah kemampuan dalam menggunakan kata-kata secara efektif. Menurut Thomas Armstrong, dalam kehidupan sekolah, kecerdasan linguistik menempati proporsi 2/3 bagian. Anak yang memiliki kecerdasan tipe ini akan mampu merangkai kata dengan baik, melaui tulisan maupun lisan. Anak-anak dengan kemampuan bahasa yang tinggi umumnya ditandai dengan kesenangannya pada kegiatan yang berkaitan dengan bahasa seperti membaca, membuat puisi, dan menyusun kata mutiara.

  1. Kecerdasan musikal atau cerdas musik

Memuat kemampuan seorang anak untuk peka terhadap suara-suara nonverbal yang berada di sekelilingnya, dalam hal ini adalah nada dan irama. Anak-anak ini senang sekali mendengar nada-nada dan irama yang indah, mulai dari senandung yang mereka lakukan sendiri, dari radio, kaset, menonton orkestra, atau memainkan alat musik sendiri. Mereka lebih mudah mengingat sesuatu dengan musik. Saat dewasa mereka dapat menjadi penyanyi, pemain musik, komposer pencipta lagu, dan bidang-bidang lain yang berhubungan dengan musik.

  1. Kecerdasan visual spasial atau cerdas gambar

Memuat kemampuan seorang anak yang mampu memvisualisasikan gambar dalam kepala atau menciptakannya ke dalam bentuk dua atau tiga dimensi, berarti kecerdasan spasial mereka dominan. Anak dengan tipe kecerdasan ini akan tepat berkarir sebagai penemu (seperti Einsten dalam memvisualisasikan teori relativitasnya), desainer grafis, pelukis, arsitek dan sebagainya.


5. Kecerdasan kinestetik atau cerdas gerak

Memuat kemampuan seorang anak untuk secara aktif menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan memecahkan berbagai masalah. Hal ini dapat dijumpai pada anak-anak yang unggul dalam bidang olah raga, misalnya bulu tangkis, sepak bola, tenis, renang, basket, dan cabang-cabang olah raga lainnya, atau bisa pula terlihat pada mereka yang unggul dalam menari, bermain sulap, akrobat, dan kemampuan-kemampuan lain yang melibatkan keterampilan gerak tubuh.


6. Kecerdasan inter personal atau cerdas teman

Memuat kemampuan seorang anak untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung memahami dan berinteraksi dengan orang lain sehingga mudah dalam bersosialisasi dengan lingkungan di sekelilingnya. Kecerdasan ini disebut juga kecerdasan sosial, dimana seorang anak mampu menjalin persahabatan yang akrab dengan teman-temannya, termasuk berkemampuan memimpin, mengorganisasi, menangani perselisihan antar teman, dan memperoleh simpati dari anak yang lain. Setelah dewasa mereka dapat menjadi aktivis dalam organisasi, public relation, pemimpin, manajer, direktur, bahkan menteri atau presiden.
7. Kecerdasan intra personal atau cerdas diri

Memuat kemampuan seorang anak untuk peka terhadap perasaan dirinya sendiri. Mereka cenderung mampu mengenali kekuatan atau kelemahan dirinya sendiri, senang mengintropeksi diri, mengoreksi kekurangan maupun kelemahannya dan kemudian mencoba untuk memperbaiki dirinya sendiri. Beberapa di antara mereka cenderung menyenangi kesendirian dan kesunyian, merenung dan berdialog dengan dirinya sendiri. Saat dewasa biasanya mereka akan menjadi ahli filsafat, penyair, atau seniman.


8. Kecerdasan naturalis atau cerdas alam

Memuat kemampuan seorang anak untuk peka terhadap lingkungan alam, misalnya senang berada di lingkungan alam terbuka seperti cagar alam, gunung, pantai, dan hutan. Mereka cenderung suka mengobservasi lingkungan alam seperti aneka macam bebatuan, flora dan fauna, bahkan benda-benda di ruang angkasa. Saat dewasa mereka dapat menjadi pecinta alam, pecinta lingkungan, ahli geologi, ahli astronomi, penyayang binatang, dan aktivitas-aktivitas lain yang berhubungan dengan alam dan lingkungan.

Dengan konsep Multiple Intelligences (Kecerdasan Ganda) ini, Howard Gardner ingin mengoreksi keterbatasan cara berpikir yang konvensional mengenai kecerdasan, bahwa seolah-olah kecerdasan hanya terbatas pada hasil tes intelegensi yang sempit saja, atau hanya sekadar dilihat dari prestasi yang ditampilkan seorang anak melalui ulangan maupun ujian di sekolah belaka.

Anak-anak unggul pada dasarnya tidak akan tumbuh dengan sendirinya, mereka memerlukan lingkungan subur yang diciptakan untuk itu. Oleh karena itu diperlukan kesungguhan dari orang tua dan pendidik untuk secara tekun dan rendah hati mengamati dan memahami potensi anak atau murid dengan segala kelebihan maupun kekurangannya, dan menghargai seriap bentuk kecerdasan yang berlainan.

 

7 Fakta Yang Menyebabkan Mutu Pendidikan Rendah

  1. Pembelajaran hanya pada buku paket

Di indonesia telah berganti beberapa kurikulum dari KBK menjadi KTSP. Hampir setiap menteri mengganti kurikulum lama dengan kurikulum yang baru. Namun adakah yang berbeda dari kondisi pembelajaran di sekolah-sekolah? TIDAK. Karena pembelajaran di sekolah sejak jaman dulu masih memakai KURIKULUM BUKU PAKET. Sejak era 60-70an, Pembelajaran di kelas tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Apapun kurikulumnya, guru hanya mengenal buku paket. Materi dalam buku paketlah yang menjadi “ACUAN” pengajaran guru. Sebagian Guru Tidak pernah mencari sumber refrensi lain sebagai acuan belajar.

  1. Pembelajaran dengan metode ceramah.

Metode pembelajaran yang menjadi favorit guru mungkin hanya satu, yaitu metode berceramah. Karena berceramah itu mudah dan ringan, tanpa modal, tanpa tenaga, tanpa persiapan yang rumit, Metode ceramah menjadi metode terbanyak yang diapakai guru karena memang hanya itulah metode yang benar-benar di kuasai sebagain besar guru. Pernahkah guru mengajak anak berkeliling sekolahnya untuk belajar ? Pernahkah guru membawa siswanya melakukan percobaan di alam lingkungan sekitar ? Atau pernahkah guru membawa seorang ilmuwan langsung datang di kelas untuk menjelaskan profesinya? mungkin hanya satu alasannya, yaitu Biaya.

 

  1. Kurangnya sarana belajar

Sebenarnya, perhatian pemerintah itu sudah cukup, namun masih kurang cukup. Pemerintah yang semangat memberikan pelatihan pengajaran yang PAIKEM (dulunya PAKEM) tanpa memberikan pelatihan yang benar-benar memberi dampak dan pengaruh. Malah sebaliknya, pelatihan metode PAIKEM oleh pemerintah dilaksanakan dengan hanya berupa Ocehan belaka

  1. Peraturan yang terlalu mengikat.

Ini tentang KTSP, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, yang seharusnya sekolah memiliki kurikulum sendiri sesuai dengan karakteristiknya. Namun apa yang terjadi? Karena tuntutan RPP, SILABUS yang “membelenggu” kreatifitas guru dan sekolah dalam mengembangkan kekuatannya. Yang terjadi RPP banyak yang jiplakan (bahkan ada lho RPP dijual bebas, siapapun boleh meniru). Padahal RPP seharusnya unik sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah. Administrasi-administrasi yang “membelenggu” guru, yang menjadikan guru lebih terfokus pada administrator, sehingga guru lupa fungsi utama lainnya sebagai mediator, motivator, akselerator, fasilitator, dan lainnya

 

  1. Guru tidak menanamkan soal “bertanya”

Lihatlah pembelajaran di ruang kelas. Sepertinya sudah diseragamkan. Anak duduk rapi, tangan dilipat di meja, mendengarkan guru menjelaskan. seolah-olah Anak “Dipaksa” mendengar dan mendapatkan informasi sejak pagi sampai siang, belum lagi ada sekolah yang menerapkan Full Days. Anak diajarkan cara menyimak dan mendengarkan penjelasan guru, sementara kompetensi bertanya tak disentuh. Anak-anak dilatih sejak TK untuk diam saat guru menerangkan, untuk mendengarkan guru. Akibatnya Siswa tidak dilatih untuk bertanya. Siswa tidak dibiasakan bertanya, akibatnya siswa tidak berani bertanya. Selesai mengajar, guru meminta anak untuk bertanya. Heninglah suasana kelas. Yang bertanya biasanya anak-anak itu saja.

 

  1. Metode pertanyaan terbuka tidak dipakai

Salah satu ciri negara FINLANDIA yang merupakan negara ranking pertama kualitas pendidikannya adalah dalam ujian guru memberkan soal terbuka, siwa boleh menjawab soal dengan membaca buku. Sedangkan Di Indoneisa? tidak mungkin, guru pasti sudah berfikir, “nanti banyak yang nyontek dong,” begitu kata seorang guru. Guru Indonesia belum siap menerapkan ini karena masih kesulitan membuat soal terbuka. Soal terbuka seolah-olah beban berat. Mendingan soal tertutup atau soal pilihan ganda, menilainya mudah, begitu kira-kira alasan guru sekarang.

 

  1. Fakta tentang menyontek

Siswa menyontek itu biasa terjadi. tapi, guru tidak akan lelah untuk memperingatkannya, Tapi apakah kalian tahu kalau “guru juga menyontek” ? Ini lebih parah. Lihatlah tes-tes yang diikuti guru, tes pegawai negeri yang di ikuti guru, menyontek telah merasuki sosok guru. guru aja menyontek apalagi siswanya.

nah… mungkin itulah beberapa sebab yang berakibat pada kemajuan Pendidikan di Indonesia, dan Mohon maaf apabila ada yang merasa tersinggung

http://ardhastres.blogspot.com/2011/02/7-fakta-yang-menyebabkan-mutu.html

 

 

ANAK MISKIN MASIH SULIT SEKOLAH

Persoalan korupsi bukan hanya terjadi di kalangan politisi saja tetapi juga terindikasi terjadi di dunia pendidikan. Terjadinya korupsi di dunia pendidikan ini jelas sangat memalukan sebagai bangsa yang mengaku berpendidikan dan mengelola dunia yang terhormat yakni mendidik. Baru-baru ini kawan-kawan dari Indonesian Corruption Watch (ICW) melaporkan tentang dugaan penyalahgunaan dana BOS dan BOP di tujuh TKBM.

Masing-masing adalah TKBM Himata dan Pusaka 45 yang menginduk pada SMPN 84, TKBM Sekolah Rakyat dan Papanggo menginduk ke SMPN 95 dan TKBM Peduli Umat menginduk ke SMPN 190. Selain itu, TKBM Johar Baru dan Civitas menginduk ke SMPN 28, serta TKBM Himata menginduk ke SMPN 30.

Jika memang benar laporan ICW ini maka peristiwa tersebut sungguh sangat memalukan. Coba kita pikirkan, bagaimana jadinya bangsa ini jika dunia pendidikannya justru melakukan korupsi? Apa memang bisa melakukan korupsi di dunia pendidikan? Hal ini berawal dari banyaknya proyek yang diadakan dalam upya pemerintah memenuhi hak atas pendidikan yang oleh Negara kepada warga negaranya. Sekadar diketahui saja misalnya, pada tahun 2010 ini di Jakarta, setiap siswa di SMP mendapatkan dana BOS sebesar Rp 575 ribu. Sedangkan biaya BOP sebesar Rp 110 ribu per siswa setiap bulan. Mekanisme penyalurannya langsung dari Dinas Pendidikan (Provinsi DKI Jakarta) ke rekening sekolah per tiga bulan sekali.

Sementara itu menurut rincian APBD Jakarta tahun 2010 disebutkan bahwa jumlah dana BOP yang akan dicairkan pada tahun 2010 ini kurang lebih sebesar Rp 1 triliun dan akan dicairkan setiap triwulan. Angka itu mengalami knaikan sekitar 10% jika dibanding dengan dana BOP tahun 2009 sebesar Rp 963 miliar. Kenaikan dana ini dialokasikan pada tahun 2010 disebabkan oleh rencana akan adanya peningkatan jumlah dana BOP yang diterima siswa SMA, yakni dari Rp 25.000 per bulan menjadi Rp 75.000 per bulan, atau dari Rp 300.000 per tahun per siswa menjadi Rp 900.000 per tahun per siswa. Sedangkan untuk siswa SD dan SMP, jumlah dana BOP yang diterima masih sama dengan tahun sebelumnya, masing-masing adalah Rp 60.000 per siswa per bulan untuk siswa SD atau Rp 720.000 per siswa per tahun. Untuk siswa SMP adalah Rp 110.000 per siswa per bulan atau Rp 1.320.000 per siswa per tahun.

Peluang korupsi atau penyelewengan itu bukannya berhenti disitu saja. Masih ada lagi proyek yang selama ini potensial di selewengkan, yakni pengedaan fasilitas pendidikan bagi anak didik. Semua sebenarnya terlihat sudah difasilitasi agar anak-anak di Jakarta bisa menikmati pendidikan dasar 9 tahun ( SD dan SMP) secara baik dan gratis atau setidaknya bisa dijangkau oleh anak miskin sekalipun. Namun hingga saat ini masih saja banyak keluhan bahwa anak-anak yang bersekolah di SD dan SMP Negeri tetap dibebani biaya atau pengeluaran yang seharusnya tidak perlu. Ada-ada saja tagihan dan cara sekolah atau setidaknya gurunya dan Komite Sekolah meminta uang lebih kepada anak-anak didik.

Sekarang ini sekolah memiliki pola represi yang cukup handal mengelabui system control dan sikap kritis publik dalam meminta atau mencari uang tambahan dari kegiatan pendidikan. Caranya dilakukan dengan melibatkan atau menjadikan komite sekolah sebagai ujung tombak yang handal juga aman.

Komite sekolah yang nota bene adalah juga orang tua murid didorong seolah sebagai pihak yang mengadakan dan bukan lagi sekolah atau gurunya. Hal ini terlihat jelas dari pernyataan Kepala Inspektorat Provinsi DKI, Sukesti Martono saat menanggapi dugaan korupsi dana BOS di Jakarta. Sukewsti Martono menyatakan bahwa semua besaran anggaran biaya sekolah harus dikompromikan dan mendapat persetujuan dari orangtua murid. Selain itu juga menurut Sukesti dikatakan bahwa APBS harus disosialisasikan kepada orangtua murid dan komite sekolah.

Jelas terlihat bahwa memang komite sekolah adalah bagian dari sekolah atau proses pengelolaan sekolah yang diakui masuk dalam system yang ada. Sulit dibayangkan ada komite sekolah yang mudah atau dapat bersikap kritis tanpa ada tekanan atau ketakutan akan nasib anaknya yang bersekolah di sekolah tersebut. Situasi yang menjadikan komite sekolah sebagai alat agar sistem yang ada selamat dari control dan jamahan kritis publik. Lihat saja semua jasa pejualan buku, seragam dan biaya tambahan dipungut atau diarahkan melalui komite sekolah. Semenatra yang berhubungan dengan pihak percetaakan buku atau pembuat seragam adalah guru-guru atau kepala sekolah. Begitu pula pungutan tambahan seperti perbaikan pagar, penambahan AC ruang guru dan Kepala Seklah, perbaikan WC dan penambahan atap sekolah, semuanya dilakukan melalui komite sekolah. Lagi-lagi semua pungutan itu lepas dari kepentingan sekolah atau guru dan kepala sekolanya.

Jika pihak sekolah sudah benar dan baik-baik mengelola dana pendidikan yang serta dana BOS dan BOP maka tidak perlu lagi ada pungutan tambahan, tidak ada lagi penyalahgunaan fungsi komite sekolah. Seharusnya komite sekolah bukanlah alat memungut atau mengamankan pungutan tambahan. Komite sekolah seharusnya berperan membantu sekolah dalam meningkatkan mutu atau kualitas pendidikan bukannya penampilan sekolah. Kepala sekolah dan guru-guru adalah pendidik dan bukanlah penjual buku, penjual seragam dan penajaja alat-alat ekstra kurikuler. Semua upaya penyelewengan dan korupsi di sekolah ini jelas telah merendahkan profesi guru yang seharusnya mulia sebagai pendidik bukan pedagang gelap. Guru memiliki peran sangat mulia yakni mencerdaskan kehidupan bangsa ini, jangan dikotori oleh keinginan sesaat yang menyesatkan dan merendahkan diri sendiri. Jangan lupa pada pepatah bijak yang mengatakan: “Guru kencing berdiri maka murid kencing berlari”.Jika diamati semuapelanggaran dana pendidikan ini terlihat adanya kelemahan pemerintah atau sekolah dalam:

  1. Mengelola anggaran pendidikan atau dana public

  2. Melindungi dan memenuhi hak dasar pendidikan yang baik bagi anak-anak

Apabila memang pemerintah atau sekolah ingin memenuhi dan melindungi hak atas pendidikan yang baik maka sudah seharusnya mengelola anggaran atau dana publik di bidang pendidikan secara baik. Pengelolaan yang baik adalah dengan secara mendasar memperhitung dan memenuhi kepentingan hak anak-anak dalam memperoleh kesempatan serta pendidikan bermutu. Pendidikan bermutu adalah juga hak semua anak terutama anak-anak miskin yang merupakan visi dari program mulia tersebut. Diadakannya sekolah gratis atau terjangkau dalam pendidikan dasar 9 tahun dasarnya adalah banyaknya anak-anak miskin yang kesulitan sekolah apabila negara tidak memenuhinya.

Keberadaan sekolah gratis harus bisa menyelamatkan anak-anak miskin Jakarta agar tidak sulit untuk sekolah dan mengenyam pendidikan bermutu. Komitmen pemerintah, dalam hal ini komitmen gubernur Jakarta yang mengalokasikan anggaran yang sangat besar bagi pendidikan anak Jakarta janganlah diselewengkan oleh pihak sekolah atau pengelolanya. Melihat angka dana atau anggaran yang disediakan baik dalam program BOS dan BOP, jumlahnya sangat besar, akan mampu menjangkau anak-anak miskin untuk bersekolah dan akan sangat bermanfaat pembangunan sumber daya manusia Jakarta. Apabila pengelolaan dana publik bidang pendidikan ini dilakukan secara baik dan bersih maka tidak akan ada lagi anak miskin Jakarta kesulitan untuksekolah.

Untuk mengawal pelaksanaan program sekolah gartis bagi seluruh anak Jakarta, kami Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) membuka Pos Pengaduan Sekolah Gratis Jakarta. FAKTA siap membantu dan mengadvokasi masalah-masalah dalam pelaksanaan program sekolah gratis di Jakarta. Pengaduan dapat disampaikan ke kantor FAKTA di jalan Pancawarga 4 No:44 RT 03 RW 07 Kalimalang (Belakang Gudang Seng) Jakarta Timur, telepon: 8569008 (dengan kontak Iin atau Prima).

Admin. 7 Oktober 2010. Pendidikan anak miskin. Diambil pada 28 Maret 2012. darihttp://www.fakta.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=100:anak-miskin-masih-sulit-sekolah&catid=38:opini-jakarta&Itemid=95

 

Pendidikan Anak Orang Miskin 

Artikel ini bagian dari seri tulisan pendidikan Islam untuk muslim.
Oleh
A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk
buletin El-Ukhuwah
Ponpes Al-Khoirot Putri

Munawir adalah seorang anak yang berasal dari keluarga sangat miskin yang tinggal di desa Karanganom, Klaten, Jawa Tengah. Masa sekolah di madrasah tsanawiyah (MTs) dan madrasah aliyah (MA) dilalui dengan penuh keprihatinan. Ia tidak pernah mendapat uang saku. Tidak hanya itu, ia selalu berangkat sekolah di pagi hari dengan perut kosong karena tak pernah sarapan pagi dan tidak memakai sepatu.

Kelaparan dan kekurangan secara materi tidak membuat semangat belajarnya turun. Kemiskinan justru membuatnya semakin terpacu untuk belajar lebih rajin agar kehidupannya kelak dapat lebih baik. Di sekolahnya ia dikenal sebagai anak yang rajin dan berprestasi. Ia juga dikenal sebagai anak yang tidak cepat puas. Tidak hanya ilmu sekolah formal MTs dan MA yang dia pelajari. Ia juga mengikuti berbagai pelajaran agama di pesantren yang berdekatan dengan sekolah tersebut. Tidak heran kalau akhirnya ia tidak hanya menguasai ilmu umum tapi juga ilmu-ilmu agama seperti nahwu sharaf, fiqh, tafsir, yang cuma dapat dipahami oleh para santri di pesantren.

Semangat Munawir kecil terus bergelora. Ia bercita-cita ingin melanjutkan studi ke Universitas Al Azhar Mesir selepas lulus dari madrasah aliyah. Kendati ia sadar bahwa mimpi itu seperti mustahil jadi kenyataan. Bagaimana mungkin ia melanjutkan kuliah ke luar negeri,  sedang kedua orang tuanya hidup dalam kemiskinan yang parah.  Ia ingat suatu peristiwa memilukan yang tak terlupakan seumur hidupnya.

Waktu itu ia berhasil menamatkan sekolah MA-nya dengan baik tanpa masalah. Yang menjadi masalah adalah saat hendak mengambil ijazah. Orang tuanya tidak punya uang untuk menebusnya. Karena ketiadaan uang, ibunya menjanjikan akan menjual gelugu (batang pohon kelapa) di depan rumahnya. Lalu setelah ia menebus ijazah, tiba di rumah ia kaget, karena gelugu masih tetap tegak berdiri. Sang Ibu ternyata menjual salah satu dari dua kain yang dimiliki sang ibu. “Lalu bagaimana kalau Ibu mau ganti kain?” Ibunya tenang menjawab, “Kan bisa memakai sarung punya Ayah.” Munawir kecil yang sudah menginjak remaja ini pun tidak kuat membendung air matanya. Ia tersedu, bersimpuh di pangkuan ibunya.

Kegagalannya melanjutkan studi ke Mesir tidak menyiutkan semangatnya untuk belajar. Dan dengan berbagai macam upaya yang gigih ia berhasil meneruskan studi ke University of Exeter Inggris dengan beasiswa dari Departemen Luar Negeri (Deplu).  Beberapa puluh tahun kemudian, tepatnya sejak tahun 1983, namanya dikenal secara nasional sebagai Munawir Sadzali sang Menteri Agama Republik Indonesia sampai 1993.

Peran Orang Tua

Ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari kisah sukses Munawir Sadzali dari anak orang miskin yang tidak pernah sarapan saat sekolah sampai berhasil menjadi menteri.

Pertama,  pendidikan dalam keluarga. Kondisi ekonomi boleh miskin, tapi pendidikan anak dalam rumah tetap dilakukan secara intensif. Ayah Munawir, Mughofir dan ibunya Tas’iyah selalu berusaha memberikan pendidikan terbaik dalam rumah. Baik pendidikan agama maupun pendidikan etika sosial umum. Dan pendidikan anak paling efektif tentu saja melalui keteladan kedua orang tua.

Kedua,  optimisme. Selalu optimis dan tidak putus asa (QS Yusuf 12:87).  Tidak mudah menjaga sikap optimisme saat kita dalam kesulitan. Terutama kesulitan ekonomi. Akan tetapi, sikap optimisme orang tua harus tetap dijaga dan dipelihara untuk mendorong dan mengajari sikap yang sama pada anak. Orang tua tidak dapat mendorong anaknya bersikap optimis, sementara mereka sendiri menampakkan sikap sebaliknya.

Dengan sikap optimisme, orang tua dapat memotivasi anak untuk memiliki cita-cita tinggi. Berani bermimpi untuk sebuah kehidupan yang jauh lebih baik dari orang tua mereka. Baik dari segi pendidikan maupun ekonomi.  Singkatnya, optimisme dan keberanian bermimpi menjadi kunci sukses kehidupan seseorang di masa depan. Bukan kaya atau miskinnya.

Ketiga, sabar (QS Al Ahqaf 46:35). Dari ibu Munawir yaitu Ny. Tas’iyah, kita belajar betapa pentingnya bersifat sabar dan tegar dalam menghadapi kepahitan hidup. Ibu Tas’iyah tidak mengeluh ketika harus menjual satu dari dua kain yang dimilikinya untuk menebus ijazah anaknya. Kesabaran seperti ini sangat mahal harganya dan akan menjadi teladan tak ternilai bagi anaknya dalam mengarungi tantangan kehidupan kelak di kemudian hari. Baik tantangan dalam kepahitan hidup maupun cobaan dalam kesenangan (QS Al Anbiya 21:35).[